Sabtu, 10 November 2018

Jejak La Galigo dalam Tradisi Mappadendang



 oleh: dul abdul rahman
(Sastrawan dan Peneliti Budaya)

            Bencana pertama yang melanda bumi dalam Cerita La Galigo adalah panen padi yang gagal total. Bencana ini melanda Negeri Tompoq Tikkaq, salah satu dari tiga negeri Manurung, selain Ale Luwuq dan Wewang Nriuq. Dan –boleh jadi, Negeri Tompoq Tikkaq mengacu ke Kerajaan Gowa, Wewang Nriuq adalah Kerajaan Bone. Dan –sudah pasti Ale Luwuq adalah Kerajaan Luwu itu sendiri.
            Bencana gagal panen tersebut pernah saya deskripsikan dalam novel Terbunuhnya Sang Nabi:
Kegagalan panen padi diakibatkan oleh munculnya burung-burung pipit misterius di saat bulir-bulir padi mulai padat berisi. Meski para petani menjaga sawah mereka pada siang hari tetapi tetap saja burung pipit misterius tersebut memakan bulir-bulir padi mereka. Lalu yang tersisa hanyalah bulir-bulir padi yang kosong berdiri menuding Sang Patotoe di Boting Langiq yang mengirimkan burung pipit misterius dan bengis.
(Terbunuhnya Sang Nabi, hal.4)

            Bencana gagal panen tersebut diakibatkan oleh ulah Raja Tompoq Tikkaq bernama La Urung Mpessi yang membuang beras dan nasi ke sungai. Kala itu Sang Raja murka, karena pesta yang diadakan di kerajaan tersebut tidak dihadiri oleh raja-raja yang ada di kolong langit, padahal jauh sebelumnya undangan sudah diedarkan.
            Setelah La Urung Mpessi dan isterinya We Padauleng meninggal, kerajaan itu dikuasai oleh We Tenrijelloq dan suaminya La Tenrigiling. Agar Sang Patotoe (Sang penentu nasib) di Boting Langiq (Kerajaan Langit) tidak lagi murka maka langkah pertama yang dilakukan penguasa baru adalah mengumpulkan seluruh bissu (pemuka agama dalam kepercayaan La Galigo). Lalu diadakanlah ritual tarian bissu sebagai bentuk permohonan maaf kepada dewa di langit, dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada Sangiang Serri (Dewi Padi).
            Alhasil, tanaman padi di Kerajaan Tompoq Tikkaq kembali seperti semula. Surplus beras. Sebagai rasa syukur, setiap selesai panen diadakanlah ritual tarian bissu. Meski tarian ini sangat sakral yang melibatkan para bissu termasuk Puang Matowa (kepala bissu), kemeriahan tetap sangat nampak. Tarian bissu memang hanyalah pembuka dari acara pesta rakyat.
            Tarian bissu dimulai dengan munculnya Puang Matowa dengan pakaian kebesarannya. Ia menghadap Dewi Padi Sangiang Serri. Dewi padi disimbolkan dengan sebuah bangunan persegi empat yang bersusun tiga. Tapi mereka percaya Sangiang Serri benar-benar turun dari langit dan berada dalam bangunan tersebut. Di samping bangunan itu berdiri dua bissu yang ‘berwajah kucing’. Kedua bissu tersebut sudah dimasuki roh kucing Meompalo Karellae yang menjadi pengawal setia Sangiang Serri. Puang Matowa berjalan sambil memukulkan dua alosu ke tanah tiga kali sambil berteriak Kurru Sumange kepada Sangiang Serri. Alosu adalah tongkat bissu yang terbuat dari bambu, dibungkus dengan anyaman daun lontar berwarna hijau, berpasangan dengan merah, dan diberi kepala dan ekor ayam pada setiap ujungnya. Alosu biasanya berisi butiran-butiran sehingga berbunyi saat diayunkan.
            Gemerincing alosu Puang Matowa mengundang sekumpulan bissu muncul menghadap Sangiang Serri. Mereka pun meneriakkan kurru sumange setelah memukulkan alosu mereka ke tanah. Lalu muncullah rombongan bissu lainnya yang masing-masing membawa arumpigi. Dua orang bissu membawa lesung. Mereka pun melakukan tarian bissu. Salah satu adegan dari tarian tersebut adalah para bissu memukul-mukulkan arumpigi ke dalam lesung. Arumpigi adalah batangan bambu atau kayu yang dibungkus kain berwarnah merah dan kuning. Pada ujung arumpigi diberi hiasan kepala burung yang bisanya terbuat dari kayu.
            Ketika tarian bissu ini berlangsung, di sekeliling mereka masyarakat awam ikut melakukan pertunjukan. Kelompok penari bissu dikelilingi oleh masyarakat yang ‘berkostum’ kucing sebagai penjaga bissu dan dewi padi. Kucing jadi-jadian tersebut terus mengawasi para hama yang ingin menyerbu. Hama itu berupa tikus, ayam, dan burung pipit. Kostum hama tersebut juga diperankan oleh masyarakat umum.

Pesta Rakyat
            Karya besar La Galigo pada mulanya berfungsi sebagai sebuah kitab suci. Sebelum masuknya Agama Islam di jazirah Selatan Pulau Sulawesi, masyarakat Bugis-Makassar, mayoritas kepercayaan mereka adalah kepercayaan La Galigo.
Seorang misionaris Belanda B.F.Matthes (1818-1908) yang pernah bertugas di Sulawesi sangat tergila-gila dengan Kitab La Galigo. Misionaris yang juga tokoh literasi tersebut ingin memiliki kitab tersebut. Tetapi tidak ada satu kerajaan pun yang mau menyerahkan padanya. Selain sebagai kitab suci, La Galigo memang menjadi simbol ‘kesakralan’ sebuah kerajaan.
Setiap kerajaan pun hanya memiliki satu kitab La Galigo. Sang misionaris akhirnya punya ide untuk menyalin semua kitab La Galigo, ia pun meminta bantuan kepada Retna Kencana Colliq Pujie untuk menyalinnya. Saat itu Colliq Pujie menjadi tahanan Belanda di Benteng Fort Rotterdam. Ratu Kerajaan Tanete (Barru) tersebut berhasil menyalin sepertiga dari seluruh kitab La Galigo. Sepertiga dari kitab La Galigo yang disalin itu terbagi menjadi 12 jilid yang kini berada di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda.
Boleh jadi, karena tokoh sentral yang berperan membuat Kitab La Galigo menjadi lestari hingga sekarang adalah Colliq Pujie yang juga Ratu Tanete (Barru), maka tradisi-tradisi budaya La Galigo banyak ditemukan di Kabupaten Barru dan juga Kabupaten Pangkep saat ini.
Salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini adalah tradisi pesta panen rakyat yang biasa disebut Mappadendang atau Appaddekko (Makassar). Pesta rakyat tersebut tak ubahnya pesta rakyat di Kerajaan Tompoq Tikkaq pada periode La Galigo.

Tarian Appaddekko
            Suatu siang saya menyaksikan pementasan tarian Appaddekko di SMP Negeri 15 Makassar. Wilayah –yang boleh jadi, bagian Kerajaan Tompoq Tikkaq pada zaman dahulu kala. Tarian itu juga ikut dipentaskan dalam acara F8 Makassar. Saya larut hanyut menyaksikan tarian tersebut. Khayalan saya bolak-balik, antara Zaman La Galigo tempoe doloe, dan Zaman Now.
            Sebuah tarian yang cukup memikat. Agar tarian Appaddekko/Appadendang tidak kehilangan ‘nilai magis’ (baca: nilai budaya), saya pikir ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum pementasan. Pertama, kostum harus bercirikan budaya setempat. Kostum tau-tau sebaiknya tidak dibuat berlebihan sehingga menyerupai ondel-ondel Betawi, pun tidak terlalu menyeramkan serupa vampire. Kedua, pemilihan benda-benda budaya atau kostum harus inheren dengan tema tanaman padi atau pesta panen. Kostum yang inheren seperti kostum hama tikus, burung pipit. Atau kostum kucing khususnya Meongpalo Karellae (kucing tiga warna yang menjadi kucing kesayangan Sangiang Serri). Memang, dalam setiap pementasan, sangatlah dibutuhkan daya imajinasi dan kreasi. Yang penting nilai-nilai budaya tetap lestari. Kurru Sumange. dulabdul@gmail.com

Sumber: Harian Fajar, Ahad 28 Oktober 2018

Sabtu, 11 November 2017

TIAP CERITA PUNYA DENDAM MASA LALU, LALU “PADA SEBUAH PERPUSTAKAAN DI SURGA”




TIAP CERITA PUNYA DENDAM MASA LALU, LALU “PADA SEBUAH PERPUSTAKAAN DI SURGA”

oleh: dul abdul rahman
 
“Tiap cerita punya sahibul hikayat, ia yang menentukan sudut pandang, darimana cerita itu harus dilihat” (Mohammad Diponegoro)

Dan, sahibul hikayat itu bisa bermacam-macam. Boleh jadi ia adalah kenangan, angan-angan, atau inspirasi. Wujudnya boleh jadi rindu, benci, luka, atau malah dendam.

Jadi, “Tiap cerita punya dendam masa lalu” (Dul Abdul Rahman)

Novel saya “Pada Sebuah Perpustakaan di Surga” adalah wujud dendam akan masa lalu.

Dendam itu bermula di Perpustakaan Pusat Universitas Hasanuddin.
Saya merasa tidak sah rasanya pergi ke kampus bila tidak berkunjung ke perpustakaan, khususnya perpustakaan pusat (ini juga akibat dendam masa lalu sebagai anak kampung yang sangat sulit mengakses buku-buku).

Di perpustakaan pusat itulah saya selalu bertemu dengannya. Nama panggilannya Rany. Perempuan bermata bolla itu adalah teman satu gugus pada saat penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Saat itu kami mahasiswa baru di Universitas Hasanuddin. Rany mahasiswa FKM, saya anak Sastra Inggeris.

Biasanya kalau saya duluan masuk perpustakaan, saya menghabiskan waktu dulu di ruangan koran dan majalah untuk meng-update berita politik. Kala itu saya sangat mengidolakan Sri Bintang Pamungkas dan Amin Rais, kedua tokoh ini sudah ‘melawan’ pemerintah Orde Baru di saat tokoh-tokoh lainnya masih bungkam. Saat itu saya begitu berharap, estafet kepemimpinan nasional selanjutnya dipegang oleh kedua tokoh tersebut, meski akhirnya saya berkesimpulan kalau passion Amin Rais bukanlah di pemerintahan, tetapi di pergerakan atau kecendekiawanan.

Saya memiliki alasan lain memilih ruangan koran dan majalah. (Meski alasan ini tidak penting, biarlah saya tetap ceritakan). Pada pertengahan halaman setiap majalah, biasanya ada rubrik tokoh. Rubrik tersebut hanya berisi satu atau dua paragraf kalimat lalu dibubuhi gambar sang tokoh. (Tidak) anehnya, tokoh yang dihadirkan adalah artis dengan foto yang menantang adrenalin. Maka…

Setiap kali ada mahasiswa (laki-laki tentunya) membuka sebuah majalah, saya selalu memerhatikannya. Ternyata umumnya cara mereka membuka majalah persis sama dengan saya, langsung di bagian tengah.

Saya menandai sebuah majalah, kalau tidak salah majalah Tempo, memuat gambar Sarah Azhari dengan ‘masa depan’ yang menonjol. Ketika pertama membuka majalah itu, saya mengutuki pegawai perpustakaan yang sudah memberi stempel persis di bagian ‘masa depan’ yang boleh jadi semua lelaki ingin meraihnya. Untungnya, kertas yang memuat halaman tokoh adalah kertas licin seperti pada cover, maka saya bisa menghapus tinta stempel itu dengan memberi sedikit air liur. Maka kelihatanlah ‘masa depan’ Sarah Azhari yang sangat cerah. Keesokan harinya, saya mendapati foto Sarah Azhari sudah dirobek. Saya yakin, yang melakukannya adalah pembaca lain. Saya kembali mengutuki orang yang mencuri gambar tersebut. Bahkan saya menyumpahinya agar ia masuk neraka. Padahal, saya tidak lebih baik, pun tidak lebih alim daripada orang yang mencuri gambar itu. Tapi setidaknya, saya lebih baik sedikit daripada seorang pembaca laki-laki yang setiap kali membuka halaman tengah majalah, yang dicarinya adalah gambar Tommy Page.

Saya sudah menyukai Rany sejak perkenalan pertama kami di hari pertama penataran P4. Alasan utama menyukainya, ini standard umum laki-laki menyukai perempuan, cantik dan seksi. Saya pikir, kalau hanya itu alasan menyukai perempuan maka “perasaan” itu terlalu rendah, perasaan yang tak bernas.

Tapi setelah pertemuan kami hampir setiap hari di perpustakaan, saya benar-benar menyukai Rany. Ia sosok yang cerdas. Dan setelah saya tahu, bahwa ia adalah seorang anak pejabat di Bulukumba, punya rumah di perumahan elit Panakkukkang Makassar, maka sempurnalah sudah sosok Rany di mata saya. Tapi ‘kesempurnaan’ Rany itulah yang akhirnya menjadi tirai pemisah untuk perasaan saya. Saya pun memendam perasaan cinta saya lebih tiga tahun, padahal selama lebih tiga tahun itulah saya dan Rany selalu bersama.

Akhirnya, kami hampir merampungkan kuliah di Unhas, kami sudah mengikuti program KKN dengan status kuliah 0 kredit. Karena lama berpisah karena berlainan lokasi saat KKN, Rany di Bulukumba, saya di Enrekang, apalagi saat itu belum ada HP, pun belum ada sosmed, saya benar-benar rindu berat sama Rany. Rencananya, selepas KKN, saya akan menemuinya di perpustakaan pusat Unhas, dan saat itu saya sudah berketetapan hati untuk menyampaikan perasaan saya. Saya tidak peduli lagi dengan ‘jurang pemisah’ yang sebenarnya hanya kuciptakan sendiri, karena Rany tidak pernah sedikit pun menyombongkan pangkat dan harta orang tuanya.      

Akhirnya kami bertemu, ohmaigad, Rany semakin cantik. Sungguh saya tidak menyesali pembaca yang dulu mengambil dan merobek gambar Sarah Azhari, karena Rany lebih cantik dan menarik daripada Sarah Azhari. Kurru Sumange, saya pun bersiap-siap menyampaikan perasaan saya yang sudah berdarah-darah dalam hati.

Tapi Rany mendahului saya bicara, katanya ia akan menunda menyelesaikan kuliahnya. Ia akan cuti satu semester. Seorang sepupunya yang sukses jadi pengacara di Jakarta datang melamarnya. Ia tidak enak menolak. Apalagi ia juga belum punya calon pendamping. Begitu katanya.

Saya ingin menangis darah. Tetapi darah dan airmata saya membeku. Meski saya tahu, jurang pemisah kali itu benar-benar tercipta, karena ia sudah menerima lamaran sepupunya, saya tetap menyampaikan perasaan saya.

Saya terkejut. Rany menangis tersedu sedan. “Kau lelaki terbodoh yang pernah kutemui, mengapa baru kau katakan sekarang?”

Boleh jadi memang saya adalah lelaki terbodoh, tetapi saya tetap ingin jadi pahlawan, saya mengambil sapu tangan. Lalu mencoba menghapus airmatanya. Rany menghindar lalu berkata, “Kau hanya pintar membaca buku tapi tidak pintar membaca hati perempuan.”

Rany beranjak pergi. Saya menangis sendirian. Menangisi kebodohan sendiri. Rany benar-benar pergi. Akhirnya saya benar-benar menangis darah.

Saya mengikuti jejak Rany, saya juga menunda menyelesaikan kuliah. Saya cuti satu semester. Tetapi alasan saya mengambil cuti, agar terhindar dari pembayaran SPP, karena selama cuti tersebut saya tetap berada di perpustakaan pusat Unhas. Di kepala saya selau terngiang kalimat Rany, “Kau hanya pintar memnbaca buku tapi tidak pintar membaca hati perempuan.” Saya pikir, saya tidak punya apa-apa lagi kalau sudah tidak pintar membaca hati perempuan, tidak pintar pula membaca buku.

Maka selama satu semester itu, saya hanya berada di perpustakaan pusat Unhas untuk membaca dan membaca. Saya sudah membaca (hampir) semua buku sastra, filsafat, dan sejarah pemikiran yang berada di ruang cadangan khusus di lantai empat. Pada ruang khusus itu, buku-buku tidak boleh dipinjam, hanya boleh dibaca ditempat dengan memperlihatkan kartu perpustakaan dan kartu mahasiswa.   

Novel “Pada Sebuah Perpustakaan di Surga” yang terinspirasi dari perpustakaan pusat Unhas, adalah cara saya untuk membuktikan kalimat Rany dulu bahwa saya memang adalah pembaca buku yang baik. Sebab membaca dan menulis adalah dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan.

Pun, “Pada Sebuah Perpustakaan di Surga” adalah cara lain saya untuk mendendam pada masa lalu, bukan memendam masa lalu.

Makanya, yuk! Mari mendendam pada masa lalu dengan menuliskannya. Lah! Untuk apa juga memendam masa lalu dengan mendiamkan dan tidak menuliskannya?

Berikut hasil dendam masa lalu saya:
  1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
  2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2009)
  3. Daun-Daun Rindu (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2010)
  4. Perempuan Poppo (Novel, Ombak Yogyakarta, 2010)
  5. Sabda Laut (Novel, Ombak Yogyakarta, 2010)
  6. Sarifah (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2011)
  7. La Galigo, Napak Tilas Manusia Pertama di Kerajaan Bumi (Novel Klasik, DIVA Press Yogyakarta, 2012)
  8. La Galigo 2, Gemuruh Batin Sang Penguasa Laut (Novel Klasik, DIVA Press Yogyakarta, 2012).
  9. Insyaallah, Aku Bisa Sekolah (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2015)
  10. Pohon-Pohon Peluru (Kumpulan Cerpen, Pustaka Puitika Yogyakarta 2015)
  11. Hikayat Cinta Lelaki Monyet dan Kupu-kupu Bantimurung (Novel, Ombak Yogyakarta, 2016)
  12. Terbunuhnya Sang Nabi (Novel, Penerbit Kakilangit Jakarta, 2017)
  13. Pada Sebuah Perpustakaan di Surga (Novel, Ombak Yogyakarta, 2017)

Senin, 06 November 2017

TERBUNUHNYA SANG NABI




TERBUNUHNYA SANG NABI

Sinopsis:

Sebuah kampung kecil bernama Sumpang Ale yang terletak di kaki gunung Bawakaraeng dilanda paceklik berkepanjangan. Sudah dua tahun, warga tidak tidak bisa lagi memanen padi mereka, tanaman padi mereka diserang hama misterius. Sebagian warga Sumpang Ale percaya bahwa kampung mereka dikutuk oleh penjaga gunung Bawakaraeng dan gunung Lompobattang, karena mereka tidak lagi menjaga alam dan lingkungan mereka. Mereka seenaknya menebang pepohonan yang sesungguhnya menjadi tempat tinggal para makhluk halus penjaga kedua gunung kembar tersebut. Sebagian warga yang lain percaya bahwa kampung mereka mendapat kutukan karena imam kampung Sumpang Ale bersikap tidak jujur dan adil.

Di tengah kegalauan dan kekalutan hati warga, tiba-tiba kampung Sumpang Ale digemparkan oleh peristiwa aneh. Seorang petani yang bisu dan tuli bernama Jamalang Kundung hidup kembali setelah empat malam menghuni kubur. Dan yang paling menggemparkan warga, setelah bangkit dari kuburnya, Jamalang Kundung bisa berbicara. Hanya saja suaranya mirip suara perempuan, pun gayanya mirip perempuan.

Sebagian besar warga Sumpang Ale percaya bahwa Jamalang Kundung adalah seorang bissu (pemimpin ritual dalam kepercayaan Bugis Kuno). Ia sengaja diutus oleh penguasa gunung Bawakaraeng dan Lompobattang untuk menyelamatkan kampung Sumpang Ale dari paceklik.

Imam Kampung, Puang Mattuang, yang juga saudara kandung dari kepala Kampung bernama Puang Semmang, merasa mendapat saingan dengan kemunculan Jamalang Kundung. Puang Semmang pun berusaha melenyapkan Jamalang Kundung. Tetapi sebelum melenyapkan Jamalang Kundung, ia juga berusaha mendapatkan ilmu kesaktian dengan bersemedi di bekas kuburan Jamalang Kundung. Tetapi rupanya, selain berusaha mendapatkan ilmu kesaktian, Puang Mattuang juga mengejar cinta seorang janda muda bernama Beccekong.

Jamalang Kundung akhirnya mempunyai dua pengikut bernama Mappiasse dan Mappabenteng. Kedua murid tersebut mendapat pengajaran dari Jamalang Kundung yang ia sebut sebagai ajaran kebenaran. Lewat mimpi-mimpinya, Jamalang Kundung mengajarkan bahwa kebenaran itu bukan di luar tetapi di dalam hati. Bahkan Jamalang Kundung berpendapat bila ada orang pergi berhaji di Tanah Suci Mekkah tetapi di kampung orang tersebut masih ada orang kelaparan maka ibadah haji orang tersebut tidak sah, malah ia dianggap berdosa.

Puang Mattuang dan sebagian besar warga Sumpang Ale menganggap bahwa Jamalang Kundung adalah seorang nabi palsu yang mengajarkan ajaran sesat. Puang Mattuang dengan didukung tetua kampung dan warga berusaha melenyapkan Jamalang Kundung. Pada suatu malam, mereka membakar rumah Jamalang Kundung. Tetapi Jamalang Kundung berhasil diselamatkan oleh kedua muridnya dan sekelompok waria yang diam-diam menjadi murid Jamalang Kundung. Ia pun dibawa dan disembunyikan di puncak gunung Bawakaraeng.

Meski Jamalang Kundung sudah terusir dari Sumpang Ale, tetapi rupanya ajaran kebenaran Jamalang Kundung masih berakar di kampung tersebut. Bahkan semakin banyak warga lebih percaya terhadap ajaran kebenaran Jamalang Kundung daripada mengikuti ajaran agama yang didakwahkan oleh Puang Mattuang.

Tak lama setelah Jamalang Kundung terusir dari Sumpang ale, kampung tersebut mendapat pengaruh dan menjadi basis perjuangan DII/TII (Darul Islam Indonesia/ Tentara Islam Indonesia) dibawah pimpinan Kahar Mudzakkar yang merupakan afiliasi dari DII/TII Jawa Barat pimpinan Kartosuwiryo. Para pengikut aliran kebenaran Jamalang Kundung termasuk para waria pun dibunuh dengan sadis oleh pasukan DII/TII rayon Sumpang Ale pimpinan Puang Mattuang. Bahkan Puang Mattuang juga berhasil membunuh Jamalang Kundung dan pengikut-pengikutnya di atas gunung Bawakaraeng.

Penulis: Dul Abdul Rahman
Penerbit: Kakilangit Kencana Jakarta
Cet.1 : Maret 2017
 

Sabtu, 04 November 2017

Pada Sebuah Perpustakaan Di Surga




Judul Novel: Pada Sebuah Perpustakaan Di Surga
Penulis: Dul Abdul Rahman
Penerbit: Ombak Yogyakarta
Cetakan 1: November 2017
 
Di dalam surga terdapat sebuah perpustakaan yang ukurannya seluas bumi. Hampir semua buku yang pernah ditulis oleh manusia di bumi akan menghuni perpustakaan tersebut kelak.
Buku-buku yang terseleksi masuk surga sangat merindukan orang yang menulisnya. Ketika sang penulis meninggal dunia, maka buku-buku yang ditulisnya meminta malaikat menerbangkannya menemui arwah sang penulis. Malaikat tidak pernah menolak permintaan buku-buku tersebut. Sebab pada hakekatnya buku adalah tuan penghuni abadi surga sedangkan malaikat hanyalah pelayan.
Ketika sang buku bertemu dengan arwah penulisnya, maka mereka akan menyatu, lalu buku itu diterbangkan kembali oleh malaikat masuk ke dalam surga.
Tak jauh dari surga, berdiri sebuah neraka cadangan yang diperuntukkan untuk kaum intelektual. Neraka itu diberi nama: Neraka Universitas.
Buku-buku apa saja yang terseleksi mengisi perpustakaan di surga kelak? Lalu siapa saja dari golongan kaum intelektual yang akan menghuni neraka cadangan atau neraka universitas?
Temukan jawabannya dalam novel filsafat literasi luar biasa ini!!!