Selasa, 23 Agustus 2011

cerpen dul abdul rahman LEBARAN DI SURGA

LEBARAN DI SURGA
Oleh: dul abdul rahman

“Mama! Lebaran nanti kita buat masakan yang enak kan.”

“Horeee…! Kita akan makan enak karena lebaran sebentar lagi.”

Selalu begitu celotehan si kembar Saribulang dan Saribanong kepada ibunya menjelang lebaran.
Kali ini Samintang menatap putri kembarnya nanar. Tangannya gemetar memegang surat dari suaminya yang dibawa oleh Bajide, teman seprofesi suaminya yang jadi TKI di Malaysia. Samintang berharap selain surat mudah-mudahan ada juga lembaran rupiah untuk membeli baju lebaran putri kembarnya, atau minimal pembeli daging untuk menu lebaran. Tapi ia ranap karena surat itu hanyalah berisi selembar kertas dan sebuah foto kusam suaminya. Hatinya kian ratap manakala ia baca surat suaminya yang tak bisa mengirim apa-apa karena setahun ia jadi TKI tapi belum menerima sepersen pun gaji. Katanya ia “dijual” oleh Taikong Lamakking yang membawanya ke Malaysia. Samintang yang mengira Malaysia adalah ladang emas, ternyata kini hanyalah ladang cemas baginya.

“Lebaran nanti kita masak apa?”

“Gulai ayam.”

“Gulai kambing yang lebih enak.”

“Gulai ayam yang lebih sedap.”

Celoteh putri kembarnya kian membakar kesedihan Samintang. Ia memang sudah menjanjikan kepada putri kembarnya untuk membuat masakan enak saat lebaran nanti. Janji ini sebenarnya hanyalah janji alibi ketika putri kembarnya merayu-rayu minta dibelikan baju baru.

“Mama! Aku mau baju baru seperti baju barunya Salma.”

“Mama! Kalau aku seperti baju barunya Salwa.”

Samintang terdiam sejenak. Ada kelam tiba-tiba menggantung di wajahnya ketika Saribulang dan Saribanong ingin dibelikan baju baru seperti baju baru milik Salma dan Salwa, putri kembar Haji Loppo yang seorang pengusaha sukses. Jangankan membeli pakaian apalagi pakaian mahal serupa pakaian Salma dan Salwa, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Samintang terkadang harus pontang-panting mengutang sana-sini. Upahnya yang hanya sebagai tukang cuci harian tidaklah mencukupi, apalagi belakangan ini harga sembako kian melonjak sedangkan upah mencuci semakin menyusut. Samintang harus menerima kenyataan ini. Orang-orang yang tempatnya menggantung nasib tidak bersedia mempekerjakan orang lain untuk mencucikan pakaian mereka untuk menghemat kas keuangan rumah tangga akibat harga kian melonjak. Tapi Samintang tetap meminta dipekerjakan walau diupah seminim mungkin.

“Bagaimana Mama? Kalau Mama tidak suka model bajunya Salma dan Salwa lebih baik seperti model bajunya Rima dan Rina saja.” Saribulang mengusul diamini Saribanong dengan anggukan sambil sesunggukan.

Samintang masih terdiam. Tatapannya masih terus tertancap pada foto kusam suaminya yang tertawa lepas seperti menertawai dirinya sendiri yang sudah setahun bekerja di Malaysia tapi belum menerima gaji. Samintang seperti meminta jawaban dari suaminya atas permintaan baju baru putri kembarnya. Tapi sekali lagi Samintang hanya meranap ketika menyaksikan foto suaminya yang hanya memakai sarung yang ujung bawahnya menggelambir hingga ke lutut, serta baju dalam yang bolong-bolong dan sandal jepit yang bukan lagi pasangannya. Foto suaminya benar-benar sebagai surat non-verbal seorang TKI yang teraniaya di Malaysia. Kalaupun dalam foto itu suaminya tersenyum, tetapi sesungguhnya senyum itu semata-mata diperuntukkan untuk isteri dan putri kembarnya tercinta. Bukan pada yang lain.

“Gimana dong Ma? Masak mama tak suka model baju baru Salma dan Salwa.” Saribulang protes.

“Mama sepertinya tak mengikuti perkembangan mode, masak model bajunya Rima dan Rina juga tak disukai?” Si bungsu Saribanong ikut protes.

Samintang menarik nafas panjang. Ia menyimpan foto dan surat suaminya yang sama sekali tak bisa membantunya melepaskan diri dari jeratan dan jeritan kemiskinan. Ia lalu menatap kedua putri kembarnya dengan tersenyum. Seperti senyum suaminya. Senyum kegetiran. Kegetiran dari tirani kehidupan yang tak terperikan.

“Menurut Mama, model baju baru milik Salma dan Salwa juga Rima dan Rina tak cocok buat Nak Bulang dan Nak Banong. Kalian berdua masih nampak cantik dengan baju baru yang dipakai lebaran tahun lalu.”

Samintang berharap kedua putrinya percaya padanya. Lagian baju lebaran Saribulang dan Saribanong sudah diberi pewarna wantex sehingga warnanya terang cemerlang. Baju baru yang dipakai dua pasangan kembar yang disebutkan anaknya tadi hanya bisa ia beli dengan menabung semua upah mencucinya selama lima bulan. Baju baru Rima dan Rina juga semahal dengan baju baru Salma dan Salwa. Rima dan Rina adalah putri kembar Haji Lolo. Haji Lolo adalah adik kandung Haji Loppo yang juga saudagar sukses.
Kedua putri kembarnya terdiam. Samintang memang sangat senang karena kedua putrinya tidak banyak menuntut bila sudah diberi penjelasan. Kedua putri kembarnya memang seumpama dua bidadari kecil yang diutus Tuhan dari surga untuk menghibur kemiskinannya.

“Nah! Anak mama tercinta, meski nanti baju lebarannya tetap seperti lebaran tahun lalu tapi lebaran kali ini kita akan membuat masakan yang lebih enak.” Samintang mencoba menghibur kedua putri kembarnya yang terdiam karena tak bisa memakai baju lebaran model Salma dan Salwa.

“Hore…! Kita akan menikmati makanan enak.” Koor celotehan Saribulang dan Saribanong membuat Samintang tersenyum. Tapi cuma senyum dikulum. Karena di Bulan Ramadan kali ini tak ada pesanan pakaian untuk dicucinya. Padahal harga daging pun semakin mahal.

Sudah menjadi acara rutin setiap tahunnya menjelang lebaran, dua bersaudara saudagar sukses Haji Loppo dan Haji Lolo membagi-bagikan zakat kepada kaum duafa secara langsung. Mereka khawatir bila pembagian zakat lewat badan amil zakat yang sudah dibentuk pemerintah, zakatnya tidak akan sampai ke kaum duafa. Kalau pun sampai mungkin sudah terjadi penyunatan. Apalagi mereka membagikan zakat dalam bentuk rupiah. Naluri bisnis yang kuat dari kedua saudagar tersebut mencium gelagat bisa saja zakat itu diendapkan di bank dulu. Sayangnya, prasangka dari kedua saudagar tersebut terkadang tidak memikirkan faktor lain yang bisa mendatangkan mara bahaya. Bahkan prasangka negatif kepada badan amal zakat sesungguhnya dilandasi oleh keinginan mereka untuk membagikan sendiri zakatnya secara langsung. Mereka ingin menasbihkan kepada publik bahwa mereka adalah orang kaya.
Masih pagi ketika Samintang tiba di rumah Haji Loppo dan Haji Lolo, tapi ia masih kalah cepat dengan para calon penerima zakat lainnya. Meski acara pembagian zakat dimulai jam sepuluh tapi calon penerima zakat sudah berdatangan sejak jam enam pagi. Bahkan banyak calon penerima zakat yang berasal dari luar kota yang datang selepas shalat subuh. Mereka khawatir tidak kebagian zakat.
Samintang sangat berharap bisa mendapatkan zakat untuk membeli daging sebagaimana janjinya pada kedua putri kembarnya. Tapi sudah hampir empat jam lamanya Samintang menunggu, pembagian zakat belum dimulai. Samintang melihat orang-orang yang ingin menerima zakat terus berdatangan seperti ingin menonton acara dangdutan pilkada. Sambil menunggu, Samintang sedikit menggerutu. Mengapa ia harus antri berlama-lama dan berpanas-panasan menunggu zakat yang tidak cukup untuk membeli satu kilo daging sapi. Bukankah rumahnya hanya berjarak seratus meter dari rumah kedua Puang Haji tersebut. Samintang berandai-andai, andai dirinya kelak punya harta yang berkecukupan, ia akan mendata orang miskin di wilayahnya lalu membagikan zakat dari pintu ke pintu. Samintang akan mengikuti model badan amil zakat tapi ia juga tak bermaksud menyerahkan zakatnya pada badan tersebut karena pembagian zakat yang dilakukan badan itu menurutnya tak becus, buktinya meski ia tergolong orang miskin tapi tak pernah sekalipun mendapat zakat lewat badan zakat tersebut.

“Harap tenang! Pembagian zakat segera dimulai”

Pengumuman lewat pengeras suara membuyarkan angan-angan Samintang jadi orang kaya yang akan membagikan zakat. Haji Loppo dan Haji Lolo memberikan sambutan seolah mengundang Malaikat Raqib untuk mencatat amal zakatnya.

Pembagian zakat pun dimulai. Acara yang awalnya tertib tiba-tiba menjadi kacau balau karena orang-orang berebutan ke depan karena takut tak kebagian zakat. Samintang juga berusaha sekuat tenaga menembus ke depan agar janjinya kepada kedua putri kembarnya terpenuhi. Tapi tubuh Samintang mendadak lemas. Ia tak sanggup menahan himpitan kerumunan orang yang berdesak-desakan ingin menerima zakat. Tubuh ringkih Samintang tak sanggup melawan sibakan segerombolan penerima zakat yang sudah dilihatnya maju dua kali. Artinya ada sebagian orang yang sudah menerima pembagian zakat dua kali sedangkan Samintang belum bisa mencapai deretan bangku depan tempat Haji Loppo dan Haji Lolo membagikan zakat.

“Tenang! Tenang!”

“Semprot air!”

Aba-aba dari arah depan mencoba menenankan dan mendinginkan suasana. Tapi penetrasi dari orang-orang dari belakang kian tak terkendali. Samintang dan beberapa perempuan tua kian terjepit dan tak bisa bernapas. Samintang kian mengendap-endap. Cahaya matahari yang terik, apalagi ia sedang berpuasa membuat napasnya semakin megap-megap. Lalu. Samintang benar-benar tak sanggup lagi. Ia terjatuh. Lalu segerombolan penerima zakat yang ingin menerima dobel kian merengsek maju ke depan. Tubuh Samintang dan beberapa tubuh perempuan tua lainnya terinjak-injak.

“Bulang…! Banong...!”

Dalam sisa desah napasnya Samintang hanya bisa berteriak sebisanya memanggil kedua putri kembarnya tercinta. Lamat-lamat suaranya menghilang disumbat maut. Malaikat maut bergegas datang menjemputnya.


Di sebuah gubuk yang reyot. Dua bocah kecil Saribulang dan Saribanong ketiduran menunggui ibunya yang pergi menerima zakat di rumah Haji Loppo. Tiba-tiba keduanya terbangun.

“Kak, aku mendengar suara mama yang memanggil-manggil kita berlebaran di surga.” Saribanong menatap kakaknya.

Saribulang memeluk adik kembarnya dengan sesunggukan, karena ia juga terbangun karena panggilan ibunya. Keduanya berangkulan pilu sambil mengharap ibunya segera pulang ke rumah. Sementara itu, Malaikat maut yang pulang selepas menjemput ajal ibu kedua anak kembar tersebut memalingkan wajah ketika lewat gubuk reyot itu. Ia tak sanggup melihat tangisan kedua bocah itu bila mengetahui ibu mereka telah meninggal dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar